Saturday, March 25, 2017

Skenario satu

Siapa yang bilang ikatan selalu menyatukan yang banyak menjadi satu?
Saat aku hadir di antara mereka, ikatan itu bukan lagi ikatan semula.
Bisa pecah menjadi dua,
tetap satu,
atau tidak sama sekali.

Tiga pilihan itu aku simpulkan saat aku pulang.

Kutemukan Ayah berpaling sehari setelah Ibu berpulang.  

Thursday, December 1, 2016

Bon Appétit

Hai orang-orang bernafsu makan!
Aku makan daging ayam, daging sapi, sayuran,
atau daging babi sekalipun
Santapanku tetap menjadi santapanku.

Hai orang-orang bernafsu makan!
Makan dengan sendok, sendok dan garpu,
garpu dan pisau, atau dengan tiga jari sekalipun
Cara makanku tetap menjadi cara makanku.

Negeri ini negeri penuh dengan cita rasa
Aku kau mereka sama-sama punya selera serta cara
Lidahku jangan kau paksa
caraku jangan kau hina.

Sesungguhnya makananku adalah apa yang aku cerna.

Wednesday, November 30, 2016

Wujud Nyata Peringatan Hari Guru

Oleh Ilham Fauzie
Mahasiswa sastra Indonesia UNJ


            “Mengajar anak-anak Indonesia saya anggap bagian yang tersuci dan penting.”. begitulah perkataan Tan Malaka tentang guru dalam bukunya, Dari Penjara ke Penjara. Betapa mulianya profesi guru, sebagai sosok yang harus digugu dan ditiru di kehidupan ini. Presiden, jendral, menteri-menteri, bahkan guru sekalipun ada karena jasa para guru. Profesi orang-orang saat ini adalah karena jasa guru itu sendiri. Karena pentingnya dan betapa mulianya profesi guru, dicetuskan peringatan hari guru nasional setiap tahun pada tanggal 25 November.

            Hari guru nasional diperingati setiap tanggal 25 November karena bersamaan dengan hari ulang tahun PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia). Seluruh instansi pendidikan di Indonesia merayakan peringatan ini dengan berbagai macam cara, begitu juga di UNJ (Universitas Negeri Jakarta). Para calon guru yang menuntut ilmu di kampus ini merayakan peringatan hari guru nasional dengan mengadakan Pagelaran Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Gelar Diksi) yang bertema “Berbagi kasih dan ciptakan kebahagiaan dengan pendidikan” pada tanggal 28 November 2016 yang diadakan di Aula Maftuchah Yusuf UNJ oleh BEMP (Badan Eksekutif Mahasiswa Prodi) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNJ. Walaupun acara baru dimulai selepas maghrib, peserta acara pagelaran ini tetap antusias mengikuti acara. Acara ini berisi penampilan dari komunitas-komunitas di Fakultas Bahasa dan Seni UNJ, penghargaan mahasiswa berprestasi prodi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia UNJ, peluncuran buku 101 Tentang Guru Jilid 1, dan ditutup oleh penampilan Barsena Besthandhi sebagai bintang tamu. Kabarnya, jumlah pemasukan dari penjualan tiket pagelaran ini disumbangkan ke Komunitas Difabel Jakarta.

            Pagelaran yang berisi penampilan-penampilan sebenarnya biasa saja. Kita bisa mengadakan pagelaran kapan saja, bukan hanya di hari guru nasional. Namun yang menarik dan menjadi wujud nyata peringatan hari guru bukanlah pagelarannya, tapi peluncuran bukunya. Buku 101 Tentang Guru Jilid 1 adalah sebuah karya kolektif milik mahasiswa prodi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia UNJ. Buku ini adalah kumpulan puisi yang ditulis oleh para calon guru dari prodi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, berisi puisi-puisi bagaimana pandangan mereka menjadi seorang guru, tanggung jawab mereka sebagai guru nantinya, dan lain-lain. Buku ini diterbitkan oleh penerbit Jagad Abjad. Buku ini belum dijual secara masif, hanya bisa dibeli lewat mahasiswa prodi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia UNJ. “Tujuan buku ini adalah untuk memperingati hari guru nasional, mengapresiasi perjuangan para guru, serta menambah bacaan siswa SD, SMP, dan SMA.“. tutur Iqbal, salah satu mahasiswa prodi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia UNJ yang turut serta menulis puisi dalam buku ini.


            Mereka para calon guru menggagas konsep ini dengan baik. Para calon guru yang menulis puisi di buku ini mempunyai alasannya masing-masing mengapa mereka tergerak menulis buku ini. Menurut Iqbal, alasan ia tergerak menulis puisi untuk buku ini karena ia adalah seorang calon guru. “Saya ini calon guru, di mana guru itu sosok yang harus digugu dan ditiru. Lewat tulisan saya di buku ini, saya ingin merubah pola pikir masyarakat tentang guru.”.Inilah yang dimaksud memaknai peringatan. Upacara, memberi pidato, berolahraga bersama guru setelah upacara adalah sesuatu yang biasa dilakukan oleh banyak instansi pendidikan, tapi tidak dengan Iqbal dan kawan-kawan. Menulis puisi bersama-sama kemudian diterbitkan adalah cara mereka memaknai peringatan dan cara mereka memberi wujud nyata peringatan hari guru karena memberi sumbangan berupa tulisan bukan sekadar merayakan peringatan dan mengabadikan momen, tapi tulisan yang sejatinya susah lekang dari ingatan.

Peluncuran buku 101 Tentang Guru Jilid 1 yang dipimpin oleh Rahmah Purwahida, M.Hum. selaku pembimbing BEMP Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Saturday, November 5, 2016

Reaksi Penindasan Pada Novel Gadis Pantai Karya Pramoedya Ananta Toer Dan Perempuan Di Titik Nol Karya Nawal El-Saadawi

         Perempuan merupakan hal yang tak pernah luput untuk dibahas, baik dalam bidang sosial politik, ekonomi, agama, budaya sampai sastra. Dari sekian banyak sajian, perempuan menjadi salah satu sajian yang tidak akan ada habisnya diperbincangkan dalam sebuah karya sastra. Perempuan menjadi tema-tema dari sebagian besar karya sastra yang ada di dunia. Dalam sejarah sastra Indonesia, keberadaan perempuan memiliki pengaruh sebagai salah satu pilihan tema yang paling banyak dipilih sebagai karya sastra terutama dalam bentuk cerpen, roman dan novel. Karya sastra tersebut banyak mengangkat kisah-kisah yang diperankan oleh perempuan.

            Salah dua dari sekian banyak novel yang bersudut pandang seorang perempuan adalah novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer dan Perempuan Di Titik Nol karya Nawal El-Saadawi. Kedua novel ini memiliki permasalahan yang sama yaitu dominasi patriarki pada budaya timur yang mengakibatkan ketidakadilan gender. Dominasi patriarki dalam dunia sastra memberikan pengaruh terhadap cara pandang dan penempatan perempuan sebagai tokoh utama. Sebagai contoh, perempuan ditempatkan sebagai tokoh yang memiliki ciri khas yakni sifat “keperempuannya” yang tidak berdaya, lemah lembut, penurut, pasrah, baik hati dan lain sebagainya.
            
            Sebagai gambaran sifat perempuan yang tidak berdaya, lemah lembut, penurut, pasrah,  kedua tokoh utama novel ini hampir mengalami penindasan yang sama. Penindasan pendidikan, norma, pernikahan, hak yang dialami kedua tokoh utama novel tersebut berasal dari dominasi patriarki tadi, di mana posisi perempuan selalu ada di bawah laki-laki dan tidak bisa berubah. Namun apabila ditelisik lebih lanjut, kedua novel ini sama-sama memiliki klimaks, tapi salah satu novel menawarkan sesuatu yang menurut saya menjadi perbedaan dari novel yang satunya lagi. Serupa tapi tak sama.

            Singkat cerita, Gadis Pantai yang pasrah dicerai karena anaknya bukan laki-laki, Gadis Pantai bermaksud meninggalkan gedung batu dan ingin membawa anak itu hidup di kampung nelayan. Bendoro tidak mengizinkan keinginannya, akhirnya Gadis pantai menyerahkan bayi itu pada Bendoro. Tapi anak perempuan mereka tak disentuh juga oleh Bendoro. Gadis pantai berontak, dan baru kali ini ia berontak terhadap Bendoro. Hingga akhirnya ia di usir dan dipukul oleh Bendoro. Ia menangis, dan ia berdarah-darah. Di perjalanan pulang ke kampung nelayan, Gadis Pantai memilih untuk tidak pulang ke kampung nelayan karena memikirkan tanggapan masyarakat kampung nelayan akan nasibnya, ia pergi mencari wanita tua yang dulu mengurusnya di Blora. Cerita selesai.

            Lain hal dengan Gadis Pantai, Perempuan Di Titik Nol memberi penawaran yang lain. Di samping mendapat perlakuan yang keras dari ayahnya sendiri, Firdaus semasa kecil sudah digerayangi tubuhnya oleh kawan mainnya, Muhammadain. Kemudian, Firdaus dilecehkan pamannya sendiri, dipinang waktu usia muda sekaligus diperlakukan kasar oleh Syeikh Mahmoud, ditiduri Bayoumi bersama teman-temannya dengan cuma-cuma, lalu dimanfaatkan tubuhnya oleh Sharifa menjadi ‘pelacur gratisan’ untuk mencari uang. Setelah melarikan diri dari Sharifa, pada tengah malam Firdaus bertemu polisi yang ingin memakai tubuhnya dengan imbalan satu pon serta ancaman dibawa ke kantor polisi jika menolak. Setelah polisi itu meninggalkannya tanpa memberinya uang satu pon yang telah dijanjikan, hujan turun. Kemudian seorang lelaki bermobil menawarkan tumpangan. Lelaki itu membawa Firdaus ke rumahnya yang mewah, memandikannya, dan menidurinya. Pagi harinya, saat Firdaus akan pergi, lelaki itu memberinya sepuluh pon. Uang pertama yang ia hasilkan dari ‘pekerjaan’-nya. Cerita belum selesai. Sepuluh pon itu lah yang menjadi titik balik seorang Firdaus.

            Firdaus sadar bahwa tidak selamanya ia harus pasrah dengan sistem yang ada. Berkat sepuluh pon itu, keberanian dan kepercayaan diri Firdaus mulai tumbuh. Ia mulai berani menolak dan memilih lelaki yang diinginkannya, dan memasang harga yang mahal atas tubuhnya. Firdaus merasa memiliki kebebasan, sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ia dapatkan selama dua puluh tahun hidupnya. Ia kemudian menjadi pelacur yang sukses, yang memiliki sebuah apartemen, seorang koki, seorang ‘manajer’, rekening bank yang terus bertambah, waktu senggang untuk bersantai atau jalan-jalan, serta kawan-kawan yang ia pilih sendiri.
            Titik balik itu lah yang menjadi pembeda dengan novel Gadis Pantai. Selama hidupnya Firdaus hanya ditindas, direbut hak-haknya, tidak merasa bebas. Berkat sepuluh pon, pelan-pelan ia merasa mendapatkan kehormatan dan kebebasannya. Dulu yang tertindas, sekarang menjadi yang menindas. Menjadi pelacur adalah cara Firdaus menindas laki-laki walaupun pada sudut pandang lain menjadi pelacur adalah pekerjaan hina sehina-hinanya perempuan. Tapi dilihat lagi, konsep pelacur itu hadir karena kebutuhan nafsu laki-laki itu sendiri. Hal ini lah yang dilihat Firdaus sebagai peluang. Tubuhnya tidak lagi gratis, harga tubuhnya tinggi. Hanya laki-laki beruang yang bisa tidur dengan Firdaus. Bahkan sampai akhir cerita Firdaus dihukum mati setelah membunuh lelaki bernama Marzouk, seorang germo serakah. Firdaus mendapatkan keberanian menusuk Marzouk karena kebebasan, kehormatan dan haknya terancam kembali. Firdaus tidak ingin penindasan dialaminya lagi.

            Itu lah perbedaan yang menurut saya terlihat pada novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer dan Perempuan Di Titik Nol karya Nawal El-Saadawi, di mana perbedaan itu terletak pada reaksi terhadap penindasan kedua tokoh utama novel. Gadis Pantai tetap pada sifatnya yang pasrah, namun reaksi tokoh Firdaus berupa penindasan balik terhadap laki-laki. Di samping perbedaan, kedua novel ini sama-sama memiliki dampak terhadap pembaca yang menurut saya dengan cara Pram dan Nawal menyentuh pembaca bagaimana kebudayaan timur masih sarat dengan diskriminasi dan penindasan walaupun kampanye-kampanye kesetaraan sudah terdengar di mana-mana.

Jakarta Hebat 9

Bersihkan diri
Sucikan hati
Di hari yang fitri

Buka lembaran baru
Sambut hari baru
Dengan warga baru

Jakarta Hebat 8

Pembeli dibodohi pedagang
Sudah biasa
Warga dibodohi calon pemimpin
Sudah biasa
Direktur dibodohi uang
Sudah biasa
Warga dibodohi telepon pintar

                          dibodohi?

telepon?

                           pintar?

sudah biasa?

Jakarta Hebat 7

Anakku di ranjang

Anakku ngangkang

Anakku lepas kutang

Sama laki orang

Demi bayar hutang

Anakku sayang

Anakku malang

Wednesday, October 26, 2016

Tidak Perlu Keluar Rumah dan Bersatu Menggulingkan Kaisar Jahat

The Times They Are A-Changin, salah satu lagu yang mengantar Bob Dylan meraih Nobel Sastra 2016 yang sebelumnya paling saya ingat menjadi lagu pembuka film bertema pahlawan super pada era kepemimpinan Presiden Nixon, berjudul Watchmen (2009). Pembukaan lagu ini khas dengan tradisi lagu-lagu rakyat pada umumnya yang memberitahu warganya untuk berkumpul di sekitar dan seakan-akan seperti “Saya akan memberitahu Anda tentang hal-hal indah yang terjadi.” Lagu ini bersudut pandang pemuda-pemuda yang mengumpulkan semua orang, mulai dari orang tua, guru, pekerja media massa sampai politikus.

“Come gather around people
Wherever you roam
And admit that the waters
Around you have grown
And accept it that soon
You’ll be drenched to the bone
And if your breath to you is worth saving
Then you better start swimming or you’ll sink like a stone
For the times they are a-changing”

            Namun apabila lagu ini disebut-sebut sebagai salah lagu protes yang paling terkenal, lagu ini tidak sepenuhnya sebuah lagu protes. Lagu ini bukan mengatakan, "Waktunya untuk bangun dan bangkit, dunia telah berubah". Lagu ini adalah sebuah persepsi. Masyarakat tidak perlu keluar dari rumah dan bersatu menggulingkan kekaisaran jahat, melainkan hanya mengakui bahwa dunia telah berubah dan tidak dapat ditarik kembali karena sebenarnya perubahan hanya semacam hal yang kita semua harus terbiasa; semuanya pasti berubah.

"Come mothers and fathers
Throughout the land
And don’t criticize
What you can’t understand
Your sons and your daughters
Are beyond your command
Your old road is rapidly agin’
Please get out of the new one if you can’t lend your hand
For the times they are a-changin’"

            Penggalan lirik di atas adalah suara pemuda kepada orang tuanya. Semuanya telah berubah, tidak semuanya bisa orang tua mengerti, pemuda bisa menentukan masa depannya sendiri. Di sisi lain, orang tua yang menikmati bagian ini akan mengerti sekaligus menerima pandangan baru terhadap putra-putrinya.

“For he that gets hurt
Will be he who has stalled..”

            Sebagai penutup, bagian inilah yang menurut saya secara jelas memberi pesan kuat lagu ini: menjadi ‘satu-satunya yang tidak berubah’ dalam dunia dengan perubahan yang tak berujung itu bukanlah sebuah pilihan karena yang paling konstan di kehidupan ini adalah perubahan.  Mengikuti dan menerima perubahan, baik atau buruk adalah pilihan terbaik dari pada harus diam menunggu tenggelam. For the times they are a-changing.


            Dengan lagu ini, Bob Dylan meraih Nobel Sastra 2016. Saya tidak akan berpendapat apakah Bob Dylan dan karya-karyanya mempunyai pengaruh besar serta layak atau tidaknya meraih nobel, tapi dengan lagu ini, saya pikir karya Dylan tidak butuh penghargaan, hanya perlu dinikmati dan dimengerti.




Tuesday, October 4, 2016

Jakarta Hebat 6

Bapakku kuli bangunan
Ibuku tukang cuci harian
Mau ke Ancol, bapak belum dapat tambahan
Kata ibu, tunggulah banjir kiriman

Jakarta Hebat 5

Hijau artinya "ayo jalan!"
Kuning artinya "tambah kecepatan!"
Merah artinya "Sudah, terobos saja selagi masih ada kesempatan!"

Jakarta Hebat 4

Di sebuah kedai kopi pusat perbelanjaan
Sambil menikmati sejuk udara buatan
Mereka berkicau
Membicarakan betapa pentingnya ruang hijau

Monday, October 3, 2016

Jakarta Hebat 3

Ada anak muda
Seleranya dipaksa
Sukanya musik bising
Tiap pagi tetangganya pasang musik dangdut bising-bising
Kanan kiri rumahnya pusing
Itu anak muda
Seleranya dipaksa

Jakarta Hebat 2

"Pak ibu saya mau duduk, pak.", teriak si anak kepada si bapak berkumis baplang yang bau badannya tidak ada sedap-sedapnya.

Si bapak masih membaca koran, sedangkan si anak masih di dalam kandungan.

Jakarta Hebat

Di jalan itu ada hajat
Kami tidak boleh lewat
Sama yang punya hajat
"Anak saya disunat."
Memangnya anakmu keturunan Hang Jebat?
Dasar bangsat

Pelajaran Kejantanan dari Lelaki Tua Dan Laut/The Old Man And The Sea Karya Ernest Hemingway

Kesuksesan seringkali dianggap sebagai bagian dari nilai manusia. Di antara banyak aspek cerita, ide inilah yang mendefinisikan kesuksesan dan kemenangan yang membuat Lelaki Tua Dan Laut/The Old Man And The Sea karya Ernest Hemingway begitu mendalam.
            Cerita yang sederhana: Santiago adalah seorang lelaki tua, nelayan berpengalaman yang belum mendapat hasil melaut selama berbulan-bulan. Di hari ke 85 ia belum mendapat tangkapan lagi, ia melaut sampai teluk Meksiko yang jauh dan bertemu ikan marlin besar di mana ia tidak bisa menarik ikan besar itu ke perahunya dan sampai menunggu sambil memegang tali pancing itu selama 3 hari sebelum ia membunuh ikan besar itu dengan harpun. Setelah menaklukan ikan besar dengan segala usahanya, Santiago pulang dengan hasil tangkapannya. Namun di dalam perjalanan pulangnya ia menghadapi hiu-hiu buas yang membuat hasil tangkapannya habis di makan pelan-pelan dan hanya menyisakan tulang.
“A man can be destroyed but not defeated.”
            Memang kelihatannya cerita yang sederhana, tapi di dalamnya ada makna dan pesan besar yang memiliki relevansi melebihi waktu dan tempat. Bisa kita lihat dari perkataan dan sikap yang membangun kepercayaan Santiago pada cerita. Yang bisa ditangkap dari sikap dan perkataan Santiago, seorang pria dilahirkan bukan untuk dikalahkan, seorang pria tidak bergantung pada keberuntungan, seorang pria tidak seharusnya mengeluh, seorang pria tidak suka membual, seorang pria berjuang berapa pun umurnya. Di sini Santiago berbicara tentang bagaimana seorang pria yang seharusnya, tapi secara langsung perkataan ini adalah pesan untuk manusia, bukan hanya untuk jantan-jantan tapi untuk semua orang.

            Cerita ini berbicara kebenaran yang universal dari keberadaan manusia dalam dunia, di mana rasa bangga, hormat, keuletan, dan impian yang mendasari seorang lelaki dalam usahanya untuk berkembang dalam sebuah perjuangan. Lelaki Tua dan Laut/The Old Man And The Sea adalah cerita tentang semangat gigih manusia, di mana Santiago adalah simbol sikap terhadap kehidupan, dan berjuang dengan ikan marlin perkasa yang menawarkan banyak pelajaran bagi semua orang dari waktu ke waktu. 

Monday, May 9, 2016

Mengunjungi Toko Buku

Kau anak kecil pengunjung toko buku
Aku satu di antara jajaran buku mewarnai di rak megah toko buku itu

Kami semua sama, lembaran gambar hitam putih yang menunggu
dan meminta untuk diberi warna
Kau memilih satu di antara kami,
buku  yang menurut matamu adalah buku dengan lembaran gambar hitam putih
yang bahkan sudah menarik bahkan belum diberi warna

Kau memilih aku,
lembaran-lembaranku menjadi lebih hidup setelah diberimu guratan warna.

Langit

Ia mengaduk dirinya sendiri
dengan kecemasan dan keraguan yang berakar di kepalanya
Sebaliknya, ia adalah orang yang bahkan bukan langit minta;
ia jujur menjadi dirinya sendiri.

Ia bilang "Kau belum sepenuhnya mengenalku."

Barangkali ia selalu ingin ditemukan
Dan ia tahu, aku tak akan pernah selesai untuk terus mencari.

Percakapan

Aku bukan orang yang taat
subuhku sering terlambat
Tapi di setiap doa, aku meminta dengan khidmat;
semoga singgahmu bukan sesaat.

"Aku juga bukan orang yang taat, sama sepertimu. Kadang aku lalai, sering tak tepat waktu.
Jika kau sering terlambat dan aku sering tak tepat waktu,
maukah kau dan aku saling mengingat dan menghargai waktu agar ia enggan merebutmu dariku?"

Saturday, May 7, 2016

Sebuah Ode

Tik
Tok
Tik
Tok
Kadang bingung apa yang harus ditik
Kadang tidak satu kata pun ditik jika sedang mentok
Tapi bila bicara soal ode
Kamu bisa tergelitik melihat kata-kata ini ditik
Tidak seperti bait-bait Mansyur
Tidak seperti larik-larik Pinurbo
Kata-kata ini bukan untuk semua orang
Kata-kata ini untuk kamu
Bukan untuk kamu yang kemarin di pendopo
Sekali lagi, bukan
Iya, iya, tenang
Saya tidak akan membicarakan kamu yang kemarin
Tunggu
Bisa kita mulai ode ini lebih serius lagi?
Baiklah kita mulai
Ode kali ini untuk kamu yang sangat menggemari tulisan saya
Ya, kamu
Kamu yang memanggil saya laki-laki jelek
Kamu yang kemarin meminta saya mencukur kumis saya
Sebuah perkenalan yang aneh
Apa kamu bingung dan tidak menyangka?
Saya apa lagi
Kisah yang menarik selalu diawali perkenalan yang tidak diduga-duga bukan?
Tapi di sini saya tidak akan membicarakan kisah
Saya akan membahasakan kamu
Ya, kamu
Yang sudah cerewet pada hari pertama kenal dengan saya
Yang semakin ke hari mengajarkan saya perihal menghargai
Menghargai pemberian
Menghargai tulisan lebih dari menghargai setangkai bunga yang baru dua hari sudah layu
Menghargai setiap waktu yang ada
Waktu untuk tidur
Waktu untuk membaca
Waktu untuk kamu dan segala pertemuannya
Karena waktu yang saya buang bersama kamu tidak pernah terbuang
Tapi pindah ke sini;
Ya, saya sedang menunjuk kepala saya.

Sekali lagi, kamu
Pelukis yang memberi warna pada gambar hitam putih akhir pekan saya
Saya masih punya banyak kanvas akhir pekan untuk kamu lukis
 Sepertinya kamu tidak pernah kehabisan cat

Dan saya juga tidak akan kehabisan kanvas.

Thursday, March 24, 2016

Perihal Berputar

sekian lama kuputar-putar kata untuk dirangkai

dan lagu yang memanggilmu masih terus berputar

tapi punggungmu tidak kunjung berputar

apa aku yang harus memutar punggung

dan melihat siapa yang menunggu punggungku berputar?