Saturday, May 7, 2016

Sebuah Ode

Tik
Tok
Tik
Tok
Kadang bingung apa yang harus ditik
Kadang tidak satu kata pun ditik jika sedang mentok
Tapi bila bicara soal ode
Kamu bisa tergelitik melihat kata-kata ini ditik
Tidak seperti bait-bait Mansyur
Tidak seperti larik-larik Pinurbo
Kata-kata ini bukan untuk semua orang
Kata-kata ini untuk kamu
Bukan untuk kamu yang kemarin di pendopo
Sekali lagi, bukan
Iya, iya, tenang
Saya tidak akan membicarakan kamu yang kemarin
Tunggu
Bisa kita mulai ode ini lebih serius lagi?
Baiklah kita mulai
Ode kali ini untuk kamu yang sangat menggemari tulisan saya
Ya, kamu
Kamu yang memanggil saya laki-laki jelek
Kamu yang kemarin meminta saya mencukur kumis saya
Sebuah perkenalan yang aneh
Apa kamu bingung dan tidak menyangka?
Saya apa lagi
Kisah yang menarik selalu diawali perkenalan yang tidak diduga-duga bukan?
Tapi di sini saya tidak akan membicarakan kisah
Saya akan membahasakan kamu
Ya, kamu
Yang sudah cerewet pada hari pertama kenal dengan saya
Yang semakin ke hari mengajarkan saya perihal menghargai
Menghargai pemberian
Menghargai tulisan lebih dari menghargai setangkai bunga yang baru dua hari sudah layu
Menghargai setiap waktu yang ada
Waktu untuk tidur
Waktu untuk membaca
Waktu untuk kamu dan segala pertemuannya
Karena waktu yang saya buang bersama kamu tidak pernah terbuang
Tapi pindah ke sini;
Ya, saya sedang menunjuk kepala saya.

Sekali lagi, kamu
Pelukis yang memberi warna pada gambar hitam putih akhir pekan saya
Saya masih punya banyak kanvas akhir pekan untuk kamu lukis
 Sepertinya kamu tidak pernah kehabisan cat

Dan saya juga tidak akan kehabisan kanvas.

Thursday, March 24, 2016

Perihal Berputar

sekian lama kuputar-putar kata untuk dirangkai

dan lagu yang memanggilmu masih terus berputar

tapi punggungmu tidak kunjung berputar

apa aku yang harus memutar punggung

dan melihat siapa yang menunggu punggungku berputar?

-

aku akan tetap berputar pada poros dan jarak yang kau kehendaki

walau kau bukan matahari

dan aku bukan planet.

Pennyworth, Simbol Kesetiaan

tinggal di istana
mengabdi pada tuannya
rawat anak kelelawar yatim piatu
sebesar apapun rumitnya ia bantu

hingga sang anak menjadi kelelawar dewasa yang tangguh
ia tetap terjaga dari malam sampai subuh
kadang melepas sakit
agar sang kelelawar kembali bangkit

hari ke hari ia semakin menua
tapi ia akan terus di gua
menjadi mata ketiga sang hantu Gotham
menghantam jahanam


(sebuah ode untuk Alfred Pennyworth.)

Wednesday, March 23, 2016

Selamat Hari Ayah?

13 November 2015,

hari ini ini di waktumu aku yakin kau sudah menjadi ayah yang hebat
didampingi istri yang hebat
dikelilingi anak-anak yang juga hebat.

kau bersikeras: "kau harus menjadi aku, ayah yang hebat."
kau tahu di waktuku adalah jalan yang berat untuk menuju kau
tanpa sosok dan peran ayah seperti seperti kau yang menyayangi istri dan anak-anaknya.

jangan cemaskan aku, kau rayakan saja hari ini
bila istri dan anak-anakmu lupa akan hari ini
peluk dan cium mereka akan kuwakilkan pada tulisan ini
tersenyumlah karena di waktuku, ibu tersenyum melihat kau yang sudah menjadi hebat.

selamat hari ayah, kau.

Manusia Yang Utuh

di antara rak-rak buku
dua pasang mata akhirnya bertemu
senyumku malu
kau temukan aku yang masih takut membunuh malu

dalam gelap, ia lengah
kubunuh malu dengan mudah
kudekap tangan kau yang sedikit basah

"apakah ini kesenangan yang lama kurindukan?", kutanya tuhan dengan pasrah

semakin malam kita didekatkan dengan dua gelas kopi
duduk menepi tapi enggan menyepi
sambil meyakinkan diri kalau ini bukan sebatas imaji

denganmu, aku merasa lebih menjadi manusia yang utuh
yang tiba-tiba menjadi lemah bila kau sentuh
sentuh lagi
dan lagi

sebelum tidur, ada yang masuk ke dalam kamarku
melalui pintu, lalu menuju pikiranku
kami berkenalan, ia bernama Rindu.

Aku Kucing Yang Tertidur Pulas Di Bawah Pohon Rindang

penghujan datang, kau datang
membawa riang, menghapus lengang
bertukar pikiran dan cerita, aku senang
semakin hari semakin aku tahu
ada awan gelap yang mengganggu kepalamu
awan gelap yang kadang mengalirkan air tetesannya lewat sepasang mata pada malam
tidak ada yang bisa memaksa awan gelap itu pergi
awan gelap akan pergi dengan sendirinya
begitu juga awan gelap yang pernah menghampiriku

sementara aku menunggu awan gelap itu pergi dari kepalamu
aku sedang menata kembali rumah pada bahu dan tanganku
yang kelak akan kau singgahi dan kau akan menetap di sana

denganmu, aku tanah kemarau yang disirami hujan
denganmu, aku kucing yang tertidur pulas di bawah pohon rindang
aku tumbuh

aku teduh.