Wednesday, March 23, 2016

12:50 AM

kita gemar menghabiskan waktu tanpa menghabiskan kopi dan teh yang kita minum
sambil melihat lampu-lampu bergerak ibukota
di sudut ruang yang sepi pun kita bisa menciptakan ramai berkata-kata
matamu mataku mereka enggan berpapasan tapi enggan berpisah
tanganmu tanganku mereka lebih jujur; senang berdekatan dan enggan berpisah

kau balikkan punggungmu melempar senyum-senyum itu
senyum-senyum malu melihat tingkah laku
apa daya
aku menjadi dungu mengagumi senyummu

tapi di sela kejujuran tanganmu dan senyum-senyum itu
terasa ada yang mengganggu; ya, kecemasanmu yang melihatku menunggu
kabut lalu yang kadang mengganggu
kau, induk dari rindu-rindu yang kadang seenaknya mengetuk pintu kamarku
jangan merasa biru, aku bersamamu
ada atau tidak ada kelabu aku akan terus melagu
genggam pena
memberi makna
tidak ada yang pergi
aku dan sajak-sajakku akan terus di sini
dan tidak ada alasan untuk bergegas
jika aku dan sajak-sajakku sudah menemukan tempat yang pantas.

Melatonin

kita menyatukan hitam pada malam kemarin
melupakan hitam pada malam ini
melupakan kita pada malam esok

kata-kata ini bukan lagi ode atau rapsodi yang berbunga-bunga
kata kata ini adalah bagaimana abu pernah menjadi kayu
asap pernah menjadi api, lawan pernah menjadi kawan
mati pernah menjadi hidup, sepi pernah menjadi ramai
gelap pernah menjadi terang, abai pernah menjadi peduli

bukan urusanku apakah kata-kata ini mau kau kubur,
kau bakar atau kau simpan bersama benda-benda berdebu itu
urusanku adalah bagaimana kata-kata ini bisa menjelma ayat yang menuntutku

untuk tetap tinggal, meski tetap terabai.

Laut

di awal hanya memandangmu meneriakkan biru
lalu kaki tersapu gelombangmu
menarik tubuh agar lebih dalam meraihmu

birumu memikat
tubuhku terpikat
semakin ke tengah semakin aku terikat
aku menyelam tinggalkan darat

selam lebih dalam
hadirlah kelam
yang tak bisa aku genggam
mengantarku pada karam

kau berontak
sukmaku retak
maut
hanyut
larut


kau adalah laut yang gagal aku selami.

Bila Ucap Mereka

Bila ucap mereka aku bodoh
aku memang bodoh karena enggan menerima pelajaran
pelajaran bagaimana cara memberimu kehilangan
Dalam perihal itu aku ingin bodoh seumur hidup.

Bila ucap mereka bahagia datang dari diri sendiri
lalu bolehkah aku tinggal di salah satu ruang ingatanmu?
Di mana pun ruang itu
biarkan aku tinggal di situ
Rawat lukamu
Hapus ragumu
karena bahagiamu satu-satunya lilin menyala
yang harus aku jaga di ruang gelapmu
dan menjaga bahagiamu adalah satu-satunya api 
yang membuat lilin di ruang gelapku tetap menyala.

Anekdot: Berlayar

Di sebuah kapal layar, ada seorang kapten bernama Kapten John, seorang awak kapal bernama Ben, orang Amerika, Jepang, Arab, dan Indonesia.
            Kapten John adalah seorang kapten kapal yang tegas dan selalu waspada, lain dengan awaknya yang malas. Si awak kapal bekerja sangat lamban karena selalu meneguk bir sampai mabuk. Sisa dari penumpang kapal itu adalah perwakilan-perwakilan dari negaranya masing-masing. Mereka berenam sedang berlayar ke sebuah negara rawan konflik untuk melakukan misi perdamaian.
            Saat berlayar di tengah samudra, hal yang tidak tertuga terjadi. Kapal layar menabrak karang yang besar dan tajam sehingga membuat sisi bawah kapal bolong. Air memasuki geladak kapal, perlahan-lahan kapal mulai tenggelam. “Kita akan melakukan pengurangan muatan. Aku perintahkan kalian untuk membuang barang bawaan kalian sebagian supaya kapal ini tidak tenggelam!“, Kapten John berteriak.
            Para perwakilan negara-negara mulai melaksanakan perintah dari Kapten John. Orang Amerika bergegas membuang barang bawaannya ke laut.“Hei Amerika, kenapa kau buang senjata-senjata itu?“, tanya Kapten John. “Senjata-senjata itu ada banyak di negaraku, Kapten. Tidak masalah.“ Setelah orang Amerika membuang senjata-senjatanya ke laut, orang Jepang menyusul. Orang Jepang membuang besi dan baja dengan alasan yang sama, di negaranya tidak pernah kehabisan besi dan baja. Melihat orang Amerika dan Jepang membuang barang bawaannya, orang Arab juga langsung menggulingkan drum-drum minyak ke arah pinggir perahu. “Hai Ben si awak pemalas, bantu aku membuang drum minyak ini ke laut! Drumnya sangat berat! Aku buang drum-drum ini karena negaraku kaya akan minyak!“, teriak orang Arab. “Aku tidak mau. Suruh saja si orang Indonesia itu. Aku sedang tidak sanggup mengangkat yang berat-berat.”, jawab Ben. Orang Indonesia yang melihat orang Arab sedang kesusahan langsung membantunya membuang drum-drum minyak ke laut. “Dasar pemalas!“, orang Indonesia mengejek Ben.
             Sesudah orang Amerika, Jepang, dan Arab melakukan perintah kapten, tinggal orang Indonesia yang belum membuang barang bawaannya. Yang ia bawa adalah bahan-bahan makanan. Kapten John menegur orang Indonesia yang sedang bingung, “Hei Indonesia, cepat buang barang-barangmu atau kita akan mati tenggelam!”. Orang Indonesia semakin bingung, ia berpikir keras. Bukannya menuju ke tempat barang bawaan, orang Indonesia malah menghampiri Ben. “Sekali lagi maaf, Ben“, ucap orang Indonesia yang langsung membuang Ben ke laut. Kapten John marah. “Bodoh! Kenapa kau buang awak kapalku?“. Dengan lantang, orang Indonesia menjawab “Orang malas seperti Ben ini ada banyak di negara saya, Kapten John. Dari pada saya harus membuang makanan-makanan yang saya bawa, lebih baik saya buang Ben. Dipikir-pikir berat antara barang bawaan saya dan berat badan Ben tidak berbeda jauh. Kalau pun kita selamat, bagaimana kita bisa lanjut hidup jika kita tidak makan?“. Semua terdiam termasuk Kapten John.

            Setelah orang Indonesia membuang Ben, kapal tidak lagi kelebihan muatan. Orang Indonesia dan orang Jepang langsung menambal bagian bawah kapal yang bolong tadi. Mereka selamat dari bahaya dan berhasil sampai di negara yang mereka tuju.

Wednesday, July 29, 2015

Baca Tulis

              Ada kebanggaan yang dirasakan orang tua ketika anaknya dinyatakan bisa membaca dan menulis saat memasuki sekolah dasar atau bahkan taman kanak-kanak, kita mengalaminya. Saat di usia itu kita membaca huruf apa saja yang kita lihat, kita juga menulis apa saja yang apa yang ingin kita tulis, bisa abjad, angka, garis-garis aneh,atau  apa pun yang kita ingin tulis. Ketika melakukan itu kita merasa senang, seolah-olah itu terjadi mengalir saja.
               
              Lalu bagaimana dengan kita yang sekarang?  Sebagian dari kita sudah meninggalkan kebiasaan itu. Sebagian dari kita hanya membaca ketika besok  ada ujian. Sebagian dari kita hanya membaca karena besok ada presentasi.  Sebagian dari kita hanya menulis karena ada tuntutan dari luar, bukan dari dalam. Kemanakah kebiasaan masa kecil yang tulus itu? Apa kebiasaan itu terbelenggu karena problematika hidup? Jawabannya: Ya. Mereka melupakan kebiasaan membaca dan menulis karena beban hidup, mereka tidak sempat lagi melakukan kebiasaan yang menurut saya kebiasaan yang mereka lupakan adalah jalan keluar dari beban hidup itu sendiri. Membaca dan menulis adalah kunci gembok belenggu beban mereka.
                
            Saya sadar ketika saya menulis ini, saya merasa seperti menceramahi diri sendiri. Dan dari tulisan ini saya ingin mengubah diri sendiri dan orang banyak. Membuka pandangan mereka terhadap dunia membaca dan menulis. Saya membaca untuk melatih diri, melihat dunia, bercermin, dan memenuhi kebutuhan batin saya. Saya menulis untuk  menuangkan keluh kesah, imajinasi, pemikiran, apa pun yang harus saya tuangkan ke tulisan. Dan penuangan itu juga adalah suatu kebutuhan.
                
                Bagi saya membaca dan menulis adalah kebutuhan selain makan, minum, rasa aman dan lain-lain. Membaca dan menulis adalah kewajiban yang harus saya penuhi. Saya membaca untuk menulis, saya menulis untuk hidup  Dengan membaca, saya bisa mengetahui isi dunia ini. Dengan menulis, kita mewariskan dunia ini. Membaca dan menulis adalah kebutuhan dan kebanggaan.


Friday, June 12, 2015

Lentera

Ada orang yang senang melih at pelangi sehabis hujan
Ada orang yang senang melihat letupan-letupan  kembang api di malam pergantian
Ada orang yang senang melihat burung-burung yang ku tak tahu namanya terbang beriringan
Mereka senang
Tapi aku lebih senang melihat cahaya lentera-lentera yang menyala hangat
Pada kedua matamu

Tangan ini mendingin
Aku coba ulurkan tangan ini pada cahaya lenteramu
Tapi hangat yang aku rasakan hanya secepat petir menyentuh bumi
Hangat, lalu tiba-tiba panas membakar tangan ini
Seakan-akan uluran tangan ini adalah perbuatan bodoh sehingga kau tak menerimanya
Ada apa dengan lenteramu?
Apa hangat lenteramu hanya untuk satu orang, tapi bukan untuk aku?
Apa ada seseorang yang pernah melukai lenteramu?

Entahlah
Yang aku tahu, resahmu hanya akan membuat lentera itu meredup
luka-luka yang mereka tinggalkan tak akan menutup
hapuslah
hapuslah resahmu itu
coba tuang lukamu pada deras hujan, burung yang hinggap di kaca jendelamu, pada kertas dan aksara, atau pada apapun yang kau percayai
tuanglah
tuanglah lukamu itu
lihat tangan ini yang terbuka
beri aku makna

sehingga kita bisa mulai menulis cerita

--
Pembacaan puisi: https://soundcloud.com/ilhamfauziex/lentera